This nice Blogger theme is compatible with various major web browsers. You can put a little personal info or a welcome message of your blog here. Go to "Edit HTML" tab to change this text.
RSS

Kamis, 07 Mei 2009

Saatnya Nomor Satu

Gemuruh suara pendukung lomba Cerdas Cermat memadati Pendopo Bojonegoro. Tampaknya akan ada persaingan ketat kali ini. Jum'at (1/05) wajib dikenang sepanjang masa. SMADA kembali mengikuti Lomba Cerdas Cermat Wawasan Kebangsaan Tingkat SLTA Se- Kabupaten Bojonegoro. Berbeda dengan kemarin, SMADA harus menghadapi lawan dari SMK Bima dan SMAN 1 Bojonegoro. Seperti biasa, Elaine (X-1), Baktiyar (XI IA-1) dan M.Faris (XI IA-1) menjadi wakil sekolah dengan motto "A Great Place to be Smart". Tidak ketinggalan pula, hampir seluruh ibu bapak guru menyaksikan perlombaan ini, termasuk "The Head Master" of SMADA, Bapak Nurali. Kehadiran orang nomor wahid di Bojonegoro (Bapak Bupati Suyoto) menambah riuh studio 1 Pendopo. Beliau turut memberikan pertanyaan terhadap peserta lomba dalam session pertanyaan terhormat. Untuk soal itu, SMADA hanya meraup skor 25, sedangkan SMASA 40, SMK Bima 25 dan skor 10 diberikan kepada Lamidi (tukang becak) yang dibuat lelucon mengawali perlombaan . Perjuangan belum berakhir, session ke 2 adalah pertanyaan wajib sebanyak 10 yang dilontarkan juri. Dengan penuh keyakinan, Elaine,Baktiyar serta Faris berusaha menjawab pertanyaan dengan benar. Boleh bangga, di sesi ke 2 SMADA berkibar diantara sekolah lain. Skor 1075 berhasil diraih. Persaingan semakin memanas, karena SMASA mengeluarkan tril khusus untuk membalas kekalahannya, dalam sessian ke-3 (babak adu cepat). Bisa diakui, sessi ke-3, SMASA lah yang cepat tanggap, tetapi juga banyak melakukan kesalahan. Melihat aksi itu, SNADA tidak ambil diam. Berusaha sebisa mungkin menjawab pertanyaan dengan tepat. Setelah session ke-3, dilanjutkan 4 pertanyaan terhormat lagi yang disampaikan oleh Rektor UT dari Surabaya,Kepala Dinas Kabupaten Bojonegoro, Wakil Bupati dan Kesbanglinas Infokom. Hingga akhirnya perlombaan dimenangkan oleh SMAN 2 Bojonegoro dengan skor 1205, sedangkan SMAN 1 Bojonegoro 690 dan SMK Bima 575. "Saya merasa bangga atas kemenangan ini. Tidak sia-sia memberikan bimbingan 3 bulan sebelumnya. Semoga kesuksesan SMADA terus berlanjut, " ungkap Bapak Siswanto selaku Pembina lomba.

Rabu, 15 April 2009

Di Sekolah kan Bisa?

Tugas ZZ 6


Pendidikan, suatu hal pokok yang wajib dimiliki semua anak. Dimulai dari TK, SD, SMP,SMA hingga Perguruan Tinggi mampu menjadikan anak memperoleh pendidikan maksimal. Berbekal pendidikan, kita dapat membedakan anak bermoral dengan yang tidak. Akan tetapi, dari tahun ke tahun sesuai perkembangan zaman globalisasi, pendidikan di Indonesia tak tentu arah. Banyak kecurangan di sana sini menyebabkan Indonesia lambat laun terpuruk.Ketidakdisiplinan dan kurangnya sanksi tegas, merupakan penyebab semua itu. Bagi para pelajar, yang satu ini mungkin tidak dapat dipisahkan. Pasti semua pernah melakukan, bahkan ada juga yang sampai ketagihan. "Mengerjakan PR di Sekolah", jawabnya. Hal ini sering disebut adat anak sekolah selain menyontek dan ngrepek saat ulangan. Meskipun berdampak buruk, tetapi tetap dilakukan.
PR awalnya merupakan tugas yang diberikan guru setelah beliau memberi pengajaran. Waktu mengerjakannya di rumah, bukan di sekolah. Tujuan PR sendiri agar kita mau belajar, mengulang pelajaran lalu dan yang akan datang.Ada juga siswa yang malas mengerjaknnya. Salah satunya "Fr". "Saya itu malas sekali mengerjakan PR, lebih baik sms'an. Jujur, PR itu bagi saya sangat memberatkan. Menyontek teman di kelas kan bisa?Ngapain susah-susah?", cerocosnya panjang lebar. Beda lagi dengan cewek berambut panjang, Upik namanya. Si Upik ini tergolong anak rajin karena tercatat jarang mengerjakan PR di sekolah. Dia lebih memilih mengerjakan PR di rumah. "Menurutku, PR itu sangat perlu bagi pelajar. Pelajar kan tugasnya belajar belajar dan belajar. Dari pada waktu terbuang sia- sia untuk sms'an?", ungkapnya serius.. Upik juga mengatakan jarang suka memberi contekan kepada teman-teman. Bukannya sombong, akan tetapi jika dikerjakan sendiri hasilnya akan lebih puas, meskipun nantinya ada yang salah. Dia menambahkan jika di dunia ini semua guru killer-killer dan memberi hukuman berat kepada siswa yang mengerjakan PR di sekolah, dipastikan semua siswa akan mengerjakan PR di rumah.

Di Sekolah kan Bisa?

Kunfayakun

Tugas ZZ 5

"Mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukan dunia
berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya"
Sepenggal lagu Nidji "Laskar Pelangi" menjadi tonggak bagi kita akan wajibnya mempunyai cita-cita (mimpi). Wajib bagaikan hukum sholat umat islam. Tanpa cita-cita orang tidak mengerti untuk apa hidup di dunia. Pasti menganggap "hidup itu enjoy aja", hidup hanya untuk berfoya-foya. Tak ada yang lain. Sekolah pun dianggap tidak berperan di dalamnya. Padahal sekolah merupakan pilihan terbaik meraih cita-cita. Untuk menentukan cita-cita itu sebenarnya mudah. Hal ini dapat dilakukan melalui pengamatan tentang hobi kita masing-masing. Dari situlah kita sedikit mengetahui arah cita-cita kita. Sebut saja kebiasaan bermusik. Jika dari awal sudah mempunyai bakat memainkan alat musik, untuk meneruskan cita-cita menjadi musisi akan semakin mudah. Lain lagi dengan cita-cita menjadi wartawan, yang dimulai karirnya dari kebiasaan menulis, dan masih banyak lagi.
Banyak sekali macam cita-cita yang kita inginkan. Diantara menjadi musisi, wartawan,guru, dokter, cita-cita yang satu ini mempunyai tantangan lebih besar. Polwan, jawabnya. Menurut Bapak Bambang Priyono (selaku Anggota Kepolisian Kepoh Baru) mengatkan,"Tahun lalu lebih dari 100 pencaftar Polwan, yang diterima hanya 2 orang per Kabupaten. Saingannya memang banyak dan setiap tahun selalu bertambah. Persyaratan dipersulit,antara lain tinggi badan minimal 160 cm. Itu pun harus sehat jasmani dan rohani, pintar, lulus tes kesehatan, kaki lurus ,tidak memakai kacamata, gigi tidak berlubang dll. Sebelum benar-benar ingin masuk Polwan, perlu disiapkan mental dan fisik yang kuat, agar jika tidak masuk kita akan stres/down.
Semua cita-cita di atas dapt tercapai, asal dengan syarat niat, berusaha semaksimal mungkin dan berserah diri kepada Dzat Yang Maha Kuasa. "Kunfayakun" artinya "Terjadilah maka terjadilah".

Jumat, 20 Maret 2009

Tugas Zig-zag 4

What:
Apa terlambat itu?
Apa penyebab terlambat?
Faktor apa sajakah yang membuat terlambat?
Apa hukuman bagi orang yang terlambat?
Apa kamu merasa senang dengan hukuman itu?
Apa hukuman itu membuat kamu kapok terlambat ?
Apakah sebelumnya kamu pernah terlambat ?
Apa teman sekelas kamu juga ada yang terlambat?

When:
Kapan kamu terlambat ?


Who:
Siapa yang menghukum kamu ketika terlambat?
Dengan siapa saja kamu terlambat?

Where:
Dimana kamu menjalani hukuman itu?

Why:
Mengapa kamu bisa terlambat?

How:
Berapa kali kamu terlambat?
Berapa lama kamu menjalani hukuman itu?
Pukul berapa kamu berangkat ke sekolah hingga akhirnya terlambat?
Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Jumat, 13 Maret 2009

Tugas ZZ 4

Dibalik Kesuksesan SMADA


"Olahraga memang menyebabkan tubuh menjadi sehat," tutur Menteri Olahraga Republik Indonesia. Selain makan makanan teratur dan istirahat cukup, olahraga bisa menjadi salah satu alternatif mencegah berbagai penyakit. Selain itu, banyak bakat yang tersembunyi dibidang olahraga.
Lebih mantap lagi jika sarana dan prasarana sudah disediakan oleh sekolah. Kenyataannya hal ini berbanding terbalik degan SMA Negeri 2 Bojonegoro. Sebuah SMA Negeri yang terkenal dengan ekstra musik dan pembuatan filmnya. Banyak orang membanggakan kalau SMADA itu the best dibidang seni. Tetapi sebagian lagi meremehkan kalau SMADA kalahnya dibidang olahraga. Pernyataan tersebut ada benarnya, menurut salah satu guru olahraga di SMADA, sebut saja Pak Edy Catur. "Coba lihat kendala ketika pelajaran olahraga berlangsung. Lapangan sudah ada, akan tetapi alatnya tidak ada. Bagaimana mungkin pelajaran olahraga berjalan dengan baik??," tutur Pak Edy dengan nada agak marah. "Terpaksa to, saya menyuruh anak-anak untuk membawa sendiri / meminjam bola kepada anak lain. Memang, sekolah sudah menyediakan bola, tetapi bukannya dirawat dengan baik, malahan hilang entah kemana," tambah Pak Edy semangat.
Maya, salah satu murid kelas X-3 sering bingung ketika pelajaran olahraga. Dia mengaku," Saya malu pinjam bola basket kepada anak SMASA. Nanti dikira SMADA nggak bondo (tidak bermodal:red). Untungnya anak SMASA itu satu kos denganku, coba kalau tidak? terpaksa saya harus harus beli," ujar Maya seusai pelajaran olahraga (Kamis, 12/03). Cewek berambut lurus ini juga berharap agar sekolah memperhatikan kekurangan SMADA.

Rabu, 11 Maret 2009

Tugas zz 3

Ketika Sampai di Pattimura




Sore itu langit terlihat begitu cerah. Angin bertiup sepoi-sepoi seakan udara pantai menyelinap di Kota Bojonegoro. Tepat pukul 15.30 WIB, bergegaslah aku menuju sekolah. Di hari tersebut, aku beserta teman-teman sekelas berencana menghias kelas karena akan ada penilaian Adipura. Jika tidak hadir akan terkena denda Rp 10.000. Sang Wali Kelas yaitu Bu Murni juga ikut dalam kegiatan kali ini.Setelah semua berkumpul, dimulailah kegiatan bersih-bersih. Sebagian anak ada yang menyapu,mengepel, membersihkan kaca serta menyiram bunga. Pukul 17.00 WIB,kegiatan bersih-bersih dihentikan, karena hari sudah sore. "Kasihan anak yang rumahnya jauh alias mbajak (tidak kost), nanti tidak dapat kendaraan", ujar the leader of X-3 seraya membujuk Sang Wali Kelas. Akhirnya kesepakatan itu disetujui seluruh siswa. Ketika akan pulang langit yang semula cerah berubah menjadi kemarahan tak terbendungkan. Perlahan hujan turun dengan derasnya. Sebagian temanku nekat pulang karena membawa sepeda motor. Tetapi aku, Novi dan Adi menunggu hujan berhenti di depan foto copy SMADA, karena rumah kita jauh hanya berbekal sepeda pancal. Sebelumnya Novi mempunyai rencana pulang, tetapi aku dan Adi mencegahnya."Ojo Nov, nek awakmu mulih saiki sisuk loro piye?,"(Jangan Nov, kalau kamu pulang sekarang besuk kalau sakit bagaimana?:red), tutur Adi sok perhatian. "Iya Nov, tunggu terang dulu," tambahku meyakinkan. Akhirnya tibalah kegiatan tunggu-menunngu.
Nasib sial tidak hanya menghantam kita bertiga, kakak-kakak kelasku yang bernama Hendro XI-IS2 dan Yanuar XII IA-1 juga mengalami hal yang sama. Sambil menunggu hujan reda, kami berlima ngobrol-ngobrol (berbicara:red) tentang sekolah SMADA. Tidak terasa waktu terus berputar. Saat itu sudah pukul 18.45 WIB, hujan belum juga reda. Karena sudah capek menunggu, kami berlima memutuskan untuk pulang. Aku, Novi dan Adi nekat pulang di bawah hujan yang semakin deras. Di sepanjang jalan udara semakin dingin membuatku akan pingsan. "Ayo Put, kuatkan tubuhmu?", teriak Novi semangat. Ketika sampai di bundaran Jetak, Adi berjalan lurus sedangkan aku dan Novi belok kanan melewati Jalan Pattimura. Sekitar 200 meter, tak disangka banjir perlahan muncul. Aku dan Novi menjadi panik. Perjalanan terus kami lakukan dengan harapan banjir tidak semakin besar. Setelah sampai di depan SMK 2, banjir semakin besar hingga lutut. Ditambah listrik mati secara mendadak melengkapi penderitaan kami berdua. Bayangkan!!! Di tengah hujan yang lebat, petir menyambar-nyambar+ listrik mati aku dan Novi bertarung melawan hujan. Jalan demi jalan terus kita lalui tanpa merasa capek, karena kita tahu semakin kita mengeluh kemungkinan tiba di kos juga semakin lama. Tak lupa berdo'a terus kita panjatkan kepada Yang Maha Kuasa agar sampai tujuan dengan selamat. Kalau pun nasibku dan Novi berakhir di situ, mungkin Tuhan sudah mengaturnya. Tiba di belokkan menuju rel kereta, banjir semakin tinggi, membuat kami semakin sulit untuk mengayuh sepeda. Seratus meter kemudian, aku dan Novi bersyukur sekali mampu melewati banjir tadi dengan selamat. Setiba di kosnya Novi (Gang Bromo), kita berdua bergegas ganti baju agar tidak kedinginan. Malam itu aku terpaksa menginap di kos Novi karena tidak memungkinkan pulang di kosku yang beralamatkan Jalan Ade Irma Suryani.